The Diary Game, Better Life (4 Maret 2021): Mengajari Siswa SMAN 1 Sigli Membuat Film Dokumenter

2개월 전

SMA.jpg


Hari ini saya kembali ke sekolah saya dulu, Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN 1 Sigli). Pukul 9.00 pagi saya pergi ke Taufik Kupi Sigli seperti biasa untuk menikmati segelas kopi pagi. Saya kemudian mendapat sebuah pesan Whatsapp dari siswa SMA 1 Sigli yang memberitahukan bahwa saya ditunjuk oleh panitia Aceh Documentary Junior 2021 untuk menjadi supervisor mereka dalam mengembangkan riset terkait film dokumenter mereka.

Kami memutuskan untuk bertemu pada pukul 12.15 WIB, setelah mereka pulang sekolah. Saya meminta untuk bertemu di sekolah saja, karena saya ingin menjelaskan perihal riset film dokumenter menggunakan papan tulis. Ini akan lebih mudah untuk dipahami oleh siswa sekolah ketimbang menjelaskan secara verbal kepada mereka.

SMA3.jpg

Pukul 12.15 WIB saya langsung menuju ke SMA N 1 Sigli dan tiba-tiba saya terkirim ke masa dimana saya masih menjadi siswa SMA ini. Dulu saya kemari untuk menuntut ilmu, sekarang saya kembali untuk mengajar siswanya. Tidak banyak perubahan dari tata bangunan SMA, semua masih sama. Namun bangunan utama, atau gerbang masuk sudah menjadi lebih besar dan ruang disampingnya juga sudah menjadi dua lantai. Ruang kesiswaan yang dulu yang berada di gerbang utama sepertinya sudah pindah, entah dimana.

Kami kemudian masuk ke ruang kelas X IA 1. Kelas X IA 1 adalah kelas Unggul, atau lebih tepatnya dibuat unggul, dimana anak didik yang punya prestasi dan minat belajar tinggi disatukan ke kelas ini. Tujuannya ya melahirkan siswa dengan kemampuan dan prestasi yang tinggi untuk bisa bekerja atau dipekerjakan di tempat-tempat terbaikdi negeri ini, untuk apa juga kalau bukan untuk akumulasi kapital. Bukan untuk kesejahteraan atau kemanusiaan. Maka dari itu kadang saya agak tidak suka dengan pendidikan di negeri ini. Apa yang akan saya lakukan sebentar lagi ini adalah cara saya untuk menyadarkan anak-anak ini kembali bahwa kalian dipersiapkan untuk bekerja pada kapitalisme, bukan untuk kemewahan ilmu pengetahuan.

WhatsApp Image 2021-03-02 at 14.05.10.jpeg

Saya memulai dengan tema yang mereka pilih. View yang mereka pilih masih sangat luas, yaitu tentang kritis terhadap pendidikan, mereka menyebutnya "Pendidikan Kritis". Saya memulai dengan mengklasifikasi siapa saja yang terlibat sebagai komponen penggerak pendidikan, tentu saja; Pendidik (Guru), peserta didik, komite sekolah, dan pemerintah, serta orang tua/wali. Ketika pendidikan tidak berjalan semestinya, komponen ini pasti bertanggung jawab. Saya coba memancing pikiran mereka untuk berpendapat siapa sebenarnya yang tidak menjalankan kewajiban dengan semestinya. Dari sana mereka akan menemukan simpul terhadap masalah-masalah pendidikan.

Kemudian saya mengarahkan mereka untuk meriset bagaimana pendidikan yang ideal itu, supaya mereka bisa membandingkan dengan apa yang terjadi di realita sehari-hari mereka. Karena ini adalah film dokumenter, tentu saja mereka harus punya main character yang akan menjadi kendaraan cerita mereka. Mereka harus mencari seorang subjek yang kuat untuk menyampaika ide cerita mereka, begitu pula mereka harus meriset daily activities subjek tersebut.

SMA2.jpg

Jam sudah masuk pukul 14.00 siang, mereka harus pulang. Kami sepakat untuk bertemu kembali setelah tiga hari. Setelah mereka menemukan subjek dan merisetnya. Membuat film dokumenter memang asik, kita jadi mengetahui apa yang terjadi beyond segala hal yang hanya tampak empirik saja. Tetapi, kita masuk kepada sisi transfaktual dari sebuah fenomena, mungkin ini juga yang dikerjakan Michel Foucault ketika menyusun Archeology of Knowledge.


story - Copy.jpg

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT