Kopi yang Terpaksa Kunikmati

지난달

Kopi adalah minuman yang aku senangi, mungkin juga anda. Apalagi kopi Aceh yang diracik dengan cara disaring. Bagiku racikan yang demikian akan menambah kenikmatan bagi penikmat kopi kelas bawah umpama diriku. Sudah sepekan lebih aku tak menikmati kopi saring yang kumaksud. Sebab itu hari ini, aku berencana pergi ke warung kopi saring yang lumayan jauh dari tempat aku tinggal. Aku akan pergi ke Nazran Coffe 69. Begitu nama warung yang berada di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Ini kali kedua aku ke warung kopi Aceh ini. Kali pertama aku datang diajak temanku yang sudah menetap lama di Jakarta. Dan kali kedua ini aku pergi tanpa ditemani. Aku mencoba pergi saja bermodal google map di handphone. Sial, setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam pakai jasa gojek yang dihargai 20 ribu rupiah, itu warung kopi masih tutup. Padahal keterangan di google map, warung Nazran buka sejak pagi. Ya sudahlah, untuk mengulur waktu aku memilih makan siang saja. Walau sebenarnya masih pukul 11.30 WIB.

Usai makan di warung Sunda yang tak jauh dari Nazran, aku pun mendatangi kembali. Aduh, masih belum buka juga. Padahal sudah hampir satu jam aku tunggu. Agar tidak penasaran, aku berinisiatif bertanya pada tukang parkir Alfamart yang sedang nongkrong di depan. Katanya, biasa paling siap dhuhur juga sudah buka. Mengikuti sarannya, aku pun duduk di bangku milik penjual yang gorengan tepat di sampingnya. Sambil menunggu mataku selalu tertuju ke arah pintu toko Nazran Coffe 69. Sudah lebih jam satu siang, bahkan sudah lewat waktu dhuhur, itu warung kopi belum juga buka.

Rasa jenuh sudah mulai datang, tapi aku masih bersabar menunggu. Aku berharap paling lima atau sepuluh menit lagi juga sudah buka. Harapanku hampir menjadi nyata, karena pintu sudah terbuka sedikit, dan satu pekerjanya sudah mulai beres-beres.


Waktu terus bergerak, sepertinya sangat pelan. Aku masih coba menunggu. Dalam hati aku berkata, “jika itu warung belum buka hingga pukul dua siang, aku akan mencari warung lain, karena aku sangat ingin minum segelas kopi saring.” Benar saja, sudah lewat waktu yang kuniatkan warung belum juga buka. Alhasil aku pamitan pada penjaga parkir yang sudah baik padaku. Selanjutnya aku memesan gojek ke Jambo Kupi yang berada di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Untuk perjalanan ini aku harus merogoh kantong sebanyak 34 ribu rupiah.

Sekira 20 menit perjalanan aku pun sampai di tempat yang aku tuju. Warung kopi ini letaknya persis di pinggir jalan raya. Di seberang jalur kereta api. Selain suara kendaraan yang melintas seperti tak pernah habis, suara deru kereta api juga bisa terdengar jelas saat kita menikmati kopi di sana. Bagi penyuka kereta api mungkin ini menarik, tapi bagi penyuka kesunyian ini sungguh amat mengganggu. Itu termasuk aku yang kurang suka suara gaduh. Tapi apalah daya, aku sudah tiba di sana dan sudah waktunya aku memesan kopi yang sedari pagi tadi aku ingin.

“Saya kopi hitam saja,” kataku pada pelayan. “Kopi tarik ya,” pelayanan perempuan itu balik tanya. “Iya,” aku jawab demikian karena cara meracik kopi saring memang ditarik. Sedangkan seorang temanku memesan sanger. Sembari menunggu aku menyulut rokok agar suasana santai lebih bisa aku nikmati. Sebelum kopi disajikan, perempuan pelayanan tadi lebih dulu menyajikan sepiring makanan khas Aceh. Ada timphan, pulot, dan bulukat. Aku sama sekali tak menyentuh itu makanan hingga usai menikmati kopi. Aku datang ke sana memang untuk segelas kopi saja. Itu cukup bagiku.


Tak lama berselang, seorang pelayan lelaki membawa segelas kopi tarik dan sanger. “Aduh, tadi saya pesan kopi hitam,” sanggahku. “Iya, tapi tadi di bill pesan kopi tarik,” jelasnya lagi. Ya sudahlah, aku tak mau berdebat. Mungkin saya yang tidak faham akan nama minuman di sana. Kopi tarik saya minta dibungkus saja dan nanti saya bawa pulang ke rumah. Saya kembali memesan segelas kopi hitam. Sedang temanku hanya duduk manis saja tanpa komentar apapun. Aku lanjut menghisap rokok sambil menunggu kopi datang.

Akhirnya kopi hitam pun datang, aku pun bisa tersenyum. Kuletakkan rokok di asbak, kopi pun aku seruput perlahan dengan membaca Bismillah. Alhamdulillah, niatku untuk menikmati segelas kopi Aceh pun kesampaian. Tapi jika boleh jujur, kopi yang kunikmati sangat jauh dari ekspektasiku. Bagiku kopi itu hanya hitam saja, tapi masih jauh dari rasa kopi. Tepatnya setengah rasa kopi, setengah lainnya seperti rasa teh. Intinya, kopinya terasa sangat encer. Walau kurang terasa layaknya kopi di Aceh, tapi kuminum saja karena sudah terlanjur datang.

Soal harga, untuk ukuran kantongku kopi hitam jenis robusta encer ini terlalu mahal, 15 ribu pergelas dan belum termasuk pajak sebesar sepuluh persen. Selain itu, di warung ini biaya pelayanan juga dibebankan ke pelanggan sebanyak tiga persen. Ya, mungkin ini sudah biasa bagi penikmat kopi di sini. Tapi terasa aneh saja, biaya pelayanan kok bisa-bisanya juga dihitung. Bukankah tugas pelayan warung untuk melayani karena kita telah memesan kopi yang ia jual?. Lagi-lagi, mungkin saya yang tidak terbiasa dengan “kebodohan” kota besar seperti Jakarta. Maklum saja, saya datang dari kampung.

Satu jam tak lebih saya di sana. Saya pun bersepakat untuk menyudahi acara minum kopi ini. Walau belum terasa puas, tapi saya tetap memaksa untuk menikmati kopi racikan Jambo Kupi yang mengusung slogan “Sejuta Rasa Aceh”.

Selamat menikmati kopi hari ini...!!!


@pieasant_walking while studying

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT
Sort Order:  trending

Boleh juga kalau kau memaksa...

·

Gak paksa...krn memaksa dilarang oleh negara...