Renungan Si Ular Busuk

2개월 전

Bagian Dua

sumber

Usai si bungsu dicebok, istrinya pulang. Wajahnya kelihatan tegang.

"Ada apa?" tanyanya.

"Kepala sekolah mendamprat, Mak."

"Apa? Di mana kepala sekolah?"

"Masih di dapur."

Diulurkan tangannya yang mengenggam lengan si bungsu ke arah istri. Matanya mengedar ke dinding. Cepat ia melangkah ke dinding bagian barat. Beberapa peci mengantung di sana. Ia meraih yang putih, yang tertera FPI di pinggirnya. Dan ia pun secepatnya keluar rumah menuju dapur.

Dari arah teras dapur, kepala sekolah telah melihat kemunculannya. Hari ini perang besar, pikir kepala sekolah. Kurang ajar sekali. Sudah diputuskan dalam rapat tidak boleh ambil makanan dari dapur, tetap saja diambil.

"Semua orang di asrama tahu Kakak bawa naik nasi dan lauk-pauk, tapi orang ini diam saja. Tidak mau melapor. Baru setelah hari raya mereka lapor. Itu pun tanpa sengaja," damprat Bu Kinanti.

Tukang masak untuk anak-anak sekolah boarding itu diam seribu bahasa. Pipinya sudah penuh uraian air mata.

"Asalamu'alaikum." Tiba-tiba ia mendengar suara menantunya. Salam dijawabnya dalam hati. Sementara yang mendampratnya, terdengar membalas salam.

"Inikah balasan Ustazah Kinanti untuk orang tua kami? Sesudah sekian tahun ia mengabdi di sini. Kiranya, jika Yahudi terkenal kejam, ia pun akan kalah oleh Ustazah Kinanti."

Bu Kinanti membelalakkan matanya. Sudah pernah ia meluruskan panggilan ejekan untuknya itu beberapa minggu lalu. Kini, dari mulutnya seakan hendak keluar kalimat, "Saya bukan ustazah!"

Namun yang didengar menantunya terus memberondong perempuan itu dengan sejumlah ayat dan hadist.

"Salah satu dosa besar adalah mengata-ngatai orang tua. Jangankan berkata kasar, mengucapkan kata ah saja tidak boleh di depan orang tua," cerocos menantu tukang masak yang juga guru di sekolah tersebut.

"Jangan bawa ayat dan hadist di depan saya kalau itu hanya hafalan. Buktinya kita pernah sepakat di rapat guru tentang makanan di dapur. Sekarang? Munafik 'kan? Ngomongnya A, tapi apa? Ambil nasi juga kalian 'kan. Itu haram namanya."

"Diam." Jari telunjuk kanan Bu Kinanti menempel di depan mulut ketika melihat lelaki di depannya mau membuka lagi mulutnya. "Saya tidak butuh ayat dan hadist dari mulut, Ustaz. Omong kosong, tahu."

Kepala sekolah langsung memutar langkah dan berjalan ke arah kantor. Ia tahu di belakang ada yang mengejarnya. Dan ia tahu yang mengejarnya perempuan yang masak di dapur.

"Bu, saya berhenti saja sebagai tukang masak," ujar perempuan kampung itu.

"Silakan. Saya tak perlu orang-orang seperti kakak," timpal kepala sekolah tanpa melihat perempuan di belakangnya.

Perempuan kampung itu terhenyak. Tadinya ia kira benar seperti yang pernah disampaikan menantunya. Tukang masak tak mungkin diganti lain. Susah kalau diganti. Bisa-bisa sekolah kelabakan. Tapi kenyataannya sekarang?

Di palingkannya wajah ke arah dapur sekolah. Di sana, anak dan menantunya menatapnya lekat.

Dia akan bercerita pada mereka bagaimana ketusnya suara kepala sekolah padanya.

Anak-anak yang sedang sarapan menatapnya lekat. Baru sekarang mereka melihat tukang masak menangis. Beberapa anak yang mendengar kepala sekolah memarahinya mulai menyebarkan berita bahwa tukang masak membawa naik makanan dapur untuk anak menantunya. Padahal guru-guru yang tinggal di asrama, yang sudah berkeluarga, tidak boleh ambil nasi dan lauk dari dapur.

Bersambung . . .

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT