Perkebunan Sawit dan Perangkat Desa Pertabas, Aceh Singkil

지난달

Pertabas.jpg

Salah satu rumah yang berada diantara perkebunan Sawit


Desa yang menjadi lokasi pengambilan gambar kami di Aceh Singkil adalah Desa Pertabas. Sekilas ini dibaca Perbatas atau Perbatasan, karena pola hurufnya sama. Saya juga terkadang sering salah mengucapnya, Desa Perbatas karena letaknya memang dalam jajaran desa-desa yang dekat dengan perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara. Kami memilih desa ini menjadi lokasi pengambilan gambar yang dominan karena Ustaz Azmi, subjek yang menjadi character driven kami bertugas di Desa Pertabas sebagai Dai Perbatasan yang ditugaskan oleh Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh.

Tidak memerlukan waktu lama bagi kami untuk bisa menjalin kedekatan dengan perangkat desa dan warga Pertabas. Desa Pertabas memiliki jumlah penganut agama Kristen lebih banyak daripada penganut agama Islam. Jika dibandingkan ada sekitar 35 persen muslim dan selebihnya adalah umat Kristiani. Menurut cerita dari Imam Mesjid Pertabas, yang merupakan warga pendatang juga, sebelumnya Desa Pertabas ini 100 persen warga menganut agama Kristen. Kemudian, setelah dua pembesar agama Kristen dan Phambi (penganut kepercayaan) masuk Islam, banyak pengikutnya yang kemudian ikut masuk Islam. Dari sini bermula Islam jadi agama yang dianut di Desa Pertabas, cerita Pak Imam.

Beliau sediri adalah warga Pakistan yang bekerja di Malaysia, yang pada masa konflik sudah ada di Aceh Selatan, juga pernah tinggal di Kabupaten Pidie tepatnya di Tangse. Saya mengingat beberapa sebutan warga untuk perangkat di Desa Pertabas. Pertama tentu saja Pak Dai, ustaz Azmi. Kemudian ada Pak Imam, Pak Khatib, Pak Keuchik, Ayah. Ada dua orang ayah disini. Pak Khatib kadang juga disebut ayah. Selain itu ada juga para muallaf yang dibawah bimbingan ustaz Azmi. Pertama ada Gegoh Sihotang, yang diubah namanya setelah masuk Islam menjadi Abdurrahman. Ada juga Siti Bilqis dan Jodi. Dua yang terakhir masu Islam karena faktor perkawinan. Mereka menikah dengan pasangan yang beragama Islam.


Pertabas1.jpg


Secara geografis, Desa Pertabas terletak agak jauh dari Rimo, Aceh Singkil. Kita akan menghabiskan waktu sekitar 45 menit dari Rimo berkendara sepeda motor menuju Desa Pertabas. Sebagian besar tanah di Desa Pertabas adalah kebun Sawit milik warga dari luar Aceh Singkil, bisa jadi orang-orang kaya yang tinggal di Banda Aceh, Medan, bahkan Jakarta. Beberapa warga disini tinggal di rumah yang terdapat di dalam kebun ini dan bekerja untuk menjaga kebun Sawit tersebut.

Para perangka desa pertabas yang tercampur antara Islam dan Kristen ini berkumpul di warung Ayah yang terdapat di depan kantor Keuchik. Itu karena kantor Keuchik ada jaringan Wifi desa yang bisa diakses secara gratis oleh warga. Anak-anak sering nongkrong di kantor Keuchik untuk bisa terkoneksi dengan internet. Kami juga duduk-duduk di warung Ayah ketika istirahat shooting dan sekedar untuk minum kopi di malam hari dan mengobrol panjang lebar tentang Pertabas dan Perbatasan.


story - Copy.jpg

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT