Tarian Kehidupan : Film Aceh Karya Siswa yang Menang di Nasional

2개월 전

Tarian Kehidupan.jpeg


Menjadi film penutup pada Festival Film Dokumenter 2018, Yogyakarta, adalah suatu kehormatan bagi film dokumenter asal Aceh bertajuk "Tarian Kehidupan". Festival Film Dokumenter (FFD) merupakan festival dokumenter tertua di Asia Tenggara yang tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-17. “Tarian Kehidupan” adalah salah satu film dokumenter yang menjadi nominasi pada Festival Film Dokumenter kategori film dokumenter pelajar. Film yang disutradari oleh Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya diproduksi oleh Aceh Documentary. Ada hal yang menarik dari proses produksi film dokumenter “Tarian Kehidupan” ini. Konsep yang digagas oleh Aceh Documentary ini berbeda dengan sistem produksi film yang pernah saya ketahui.

Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya yang berasal dari salah satu Sekolah Menengah Atas di Subulussalam mengirim ide cerita di daerah tempat tinggal mereka ke salah satu program kompetisi Aceh Documentary, yaitu Aceh Documentary Junior. Setelah melewati tahap seleksi ide yang ketat oleh juri, mereka berhak memperoleh beasiswa (belajar) dan mengikuti seluruh proses belajar produksi film dari tahap pra-produksi hingga paska-produksi. “Tarian Kehidupan” adalah sebuah produk yang mereka hasilkan dari proses belajar menjadi sutradara film dokumenter.

Saya hadir pada malam penutupan Festival Film Dokumenter 2018 yang diadakan di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Film itu mendapat sorotan dari kalangan filmmaker yang hadir. Diantara film-film nominasi FFD, “Tarian Kehidupan” dipilih sebagai film utama dalam seremoni penutupan festival penting di Asia Tenggara ini. Saya bisa membaca wajah-wajah takjub penonton membayangkan Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya merajut kisah demi kisah melalui bahasa sinematik. Dua sutradara muda ini bukan hanya bisa mengemas isu yang sangat dekat dengan mereka, tetapi juga berhasil mengeksplorasi gaya bercerita melalui gambar bergerak. Bukan sebuah kebetulan jika kemudian film ini memenangkan penghargaan sebagai film dokumenter pelajar terbaik di sana.

Sebagian besar filmmaker yang menemui saya setelah menonton film bertanya panjang lebar tentang proses produksi hingga bagaimana keseharian sutradara. Mereka tidak habisnya mengapresiasi dua sutradara muda tersebut. “Tarian Kehidupan” mengangkat cerita seorang pelajar yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Uniknya, dia mendapatkan penghasilan dari penampilan menari bersama kelompok tarinya. Ide yang sangat sederhana, tetapi hampir semua penonton mengatakan "aku pernah begitu loh".

Salman, salah seorang anggota grup tari Andelas menjadi karakter utama dalam film tersebut. Seni tari khas daerah yang menjadi fokus grup Andelas hanya mendapat panggung di tempat mereka berada dan digandrungi oleh anak-anak sekolah yang paginya harus menuntut ilmu untuk menyukseskan program unggulan pemerintah “Aceh Carong”. Ini sangat kontras dengan kehidupan anak-anak milenial di Banda Aceh yang sibuk dengan perayaan ulang tahun di kafe-kafe instagramable. Apakah kemudian semua anak harus menjadi "Salman"? Seorang pejuang keluarga dan kesenian daerah sekaligus. Inilah uniknya film dokumenter, penonton bisa saja memutuskan apa yang akan mereka lakukan setelah menonton. Film dokumenter memantik ide selanjutnya, ia menjadi realitas lain dari kenyataan yang sebenarnya.

Secara teknis, “Tarian Kehidupan” sudah sangat bagus. Kesabaran sutradara dalam membuat pilihan kapan tombol record dan stop akan ditekan dan pemilihan gambar yang tepat saat paska produksi membuat film mengalir dengan ketepatan dua unsur utama sinematik, visual dan audio. Dalam pernyataan dewan juri Festival Film Dokumenter, film ini tidak hanya mampu merespon isu yang dekat dengan kehidupan pelajar, tetapi juga mampu menjaga ritme unsur audio dengan sangat baik. Ini yang membuat “Tarian Kehidupan” menarik perhatian dewan juri festival yang beranggotakan Alexander Matius, Vivian Idris, dan Jason Iskandar. Sebelum “Tarian Kehidupan”, dua film dokumenter pelajar produksi Aceh Documentary juga telah memenangkan penghargaan FFD dua tahun berturut-turut pada 2016 dan 2017. Ada hal menarik yang bisa dikaji dari peristiwa ini. Tentu saja hal itu bukan kebetulan semata, atau filmnya bagus. Setiap festival film mempunyai catatan kurasi setiap tahunnya. Jadi selama tiga tahun berturut-turut film pelajar Aceh mendapat tempat istimewa di FFD. Ketiga film tersebut hampir meceritakan isu yang sama, eksploitasi anak. Salah satu film sebelumnya, “Hening Dalam Riuh” mengangkat cerita tentang seorang anak disabilitas yang bekerja di perkebunan sawit, juga di Subulussalam. Isu anak yang diceritakan oleh anak menjadi perhatian serius dari kurator festival. Selain itu, salah satu film nominasi tahun lalu berjudul “Bocah Rapai Plok” juga bercerita tentang sekelompok anak yang berusaha mengekspresikan seni mereka dengan cara yang unik. Mereka tidak diperbolehkan untuk menggunakan alat musik rapai milik orang dewasa, sehingga timbul ide untuk memanfaatkan kaleng bekas, meniru alat musik yang sebenarnya.

Kepekaan anak sekolah kadang lebih tajam dari pada pemangku jabatan. Mereka merespon dengan cepat apa yang terjadi di sekeliling. Sangat bagus ketika keresahan ini disambut oleh Aceh Documentary, lembaga yang dengan konsisten memberikan pendidikan film dokumenter kepada calon-calon sineas muda Aceh. Sudah saatnya film dokumenter Aceh mendapat tempat di daerahnya sendiri. Penghargaan sebagai film terbaik yang berhasil diraih oleh “Tarian Kehidupan” setidaknya jangan berhenti sebagai apresiasi saja, terutama bagi masyarakat Aceh dan para pemangku kepentingan. Karena film dokumenter sangat mampu membawa perubahan bagi sebuah komunitas masyarakat dan kehidupan sosial, ekonomi, bahkan politiknya. Atau menjadi pemantik bagi lahirnya ide-ide untuk perubahan. Hal yang sudah dicapai oleh Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya setidaknya bisa membuka pikiran kita terhadap bagaimana masyarakat Aceh memandang diri mereka juga bagaimana ketertarikan akan problematika yang ada di Aceh oleh orang di luar Aceh.

Tepuk tangan penonton menggema di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta saat credit title film “Tarian Kehidupan” muncul. Setelah itu juga panitia mengumumkan Festival Film Dokumenter 2018 resmi ditutup. Apakah pada Festival Film Dokumenter berikutnya, film pelajar Aceh akan kembali mendapat tempat di festival? Seorang produser yang berasal dari Busan, Korea Selatan menghampiri saya dan mengapresiasi film itu. Dia bahkan tertarik untuk berkunjung ke Subulussalam dan menjumpai dua sutradara tersebut. Apakah ini pertanda bahwa Asia juga menaruh perhatian terhadap isu pekerja anak? Kita tunggu, setidaknya film telah “menarikan jiwa” para penonton.


story - Copy.jpg

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT