Pukul Tiga Dini Hari

5개월 전

IMG_20210216_032124.jpg

Dini hari pukul tiga. Buta. Gelap cerlang di bawah kelopak mata. Suara jangkrik ritmis. Kipas angin meringis. Bayi tetangga menangis. Selebihnya adalah dengung nyamuk. Detak detik jam dinding. Kesiur angin dan rintih cacing dalam perut. Sementara bebunyian itu terasa begitu dekat dengan gendang telinga. Aku ingin mendengar dengkurku sendiri, ingin mengukur kemerduannya. Tapi bagaimana bisa?

Aku menguap kesekian kali. Mataku buta dalam keterpejaman. Tapi tidak dengan pikiran yang terus saja nyalang. Seperti sekarang ini. Aku dibuat tak berkutik dengan keliarannya. Lima belas menit lalu ia lepas landas dari ranjang. Terbang bebas menembus loteng, bertengger di bubungan. Lantas menghilang tanpa jejak.

Tanpa pikiran yang sekarang entah di mana, tubuhku membeku. Segalanya seperti tak berfungsi. Kecuali indera dengar, perasa, dan pembau yang masih bisa bekerja seperti lazimnya. Suara-suara yang begitu dekat dengan gendang telinga masih berupa bebunyian yang kuidentifikasi sebelumnya. Ambang kesadaranku dalam batas normal. Aku tahu betul itu. Tapi pikiranku benar-benar tak mau tahu.

IMG_20210216_031843.jpg

Kini ada aroma daun pandan yang terhidu tiba-tiba. Hidungku seperti kena kepung. Tajam baunya tak terbendung. Bulu kudukku meremang. Dalam waktu bersamaan aku merasa pori-pori kulit yang membalut sempurna tubuh ini terbuka-tutup dengan sendirinya. Begitu terus hingga tiga menit lamanya.

Aku membelalakkan diri kini. Mencoba siuman dari keterpejaman. Lantas mendapati diri ini dalam keadaan tersengal-sengal. Alur nafasku dua per tiga di bawah normal. Ada yang tak beres dengan pernafasanku. Jakun di batang leher seperti memuai begitu saja, menekan tenggorokan hingga tercekat sedemikian rupa. Rasa takut membahana. Aku ingin tidur sejam dua jam saja. Bagaimana bisa?

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT