Menerima kehadiran Covid 19

작년

1584441870877-ilustrasi-covid19.webp
source

Merdu alunan azan membuat aku terjaga, suara yang terdengar lebih merdu dari biasanya. Aku bersyukur azan lima waktu dengan mudah menjangkau indra pendengaranku.

Tinggal tak jauh dari masjid akhir - akhir ini membawa perasaan tersendiri. Mengintip dari jendela kamar, jamaah subuh berjalan kaki menuju masjid, sekilas tak ada yang berubah.

images.jpeg
source

Alam sadarku berulang kali menyangkal, semua baik - baik saja, tetapi suara imam masjid membuatku terkesiap, bahwa dunia masih bersama Covid 19. "Jauhkan kami dari bala, jauhkan kami dari wabah...."

Menjadi perawat di ICU membuat aku harus menata fisik dan mental, menerima kehadiran Covid 19, dengan segala konsekuensi yang harus aku dan tim hadapi.

Aku dan tim ICU melayani pasien saat bertugas, tetapi saat kami di rumahpun, rumah sakit tetap membayangi keseharian kami.

images (1).jpeg
source

Group WA ICU selalu saja menerima pesan baru, kadang kepala ruang mengingatkan penggunaan APD yang benar, atau kabar perkembangan terbaru pasien yang kami rawat, dan tak jarang kami harus membaca jurnal penelitian tentang penanganan pasien Covid 19 yang dibagikan.

Menerima kehadiran Covid 19 tidak mudah, tak sekedar air mata yang tumpah, bahkan korban jiwa mulai berjatuhan.

Meskipun berat, dengan penuh harapan, kita pasti dapat melewati pandemi ini. Lakukan apa yang kita bisa mulai sekarang. Tetap di rumah, tetap sehat, dan tetap positif. BERSAMA KITA BISA.

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT