Unimal, Antara Konservasi dan Destruksi - When The Forest of Malikussaleh University is Getting Lost

2년 전

Hasil pantauan saya, tempat berolahraga yang paling nyaman di Lhokseumawe ini ada lima titik : 1. Kompleks PT Arun 2. Kompleks PT PIM 3. Kompleks Bukit Indah Universitas Malikussaleh (BI Unimal) 4. Waduk Kota dan 5. Jalan Malikussaleh Ujong Blang. Kesemua tempat itu menjadi wahana favorit saya untuk berjogging. Namun akhir-akhir ini saya memilih BI Unimal.

IMG_20180715_080032.jpg

Alasannya sederhana. Di samping lebih dekat dari tempat tinggal, kompleks BI Unimal cukup sunyi dan tenang untuk olahraga di pagi hari. Suasana sunyi dari kenderaan ini membuat saya aman membawa anak-anak untuk ikut serta. Tak ada orang gila ngebut di kompleks BI.

Mahasiswa pun memang lebih memilih olahraga di sore Sabtu dan Minggu dibandingkan di pagi hari. Saya juga pernah mengajak mahasiswa olahraga di pagi hari tapi hampir semua enggan. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa malas bangun pagi di hari libur.

IMG_20180715_080945.jpg

Setelah dua minggu berturut-turut saya jogging di kompleks ini, ditambah pengalaman di minggu-minggu sebelumnya, baru saya tahu bahwa hanya sayalah dosen yang memanfaatkan keasrian kampus ini untuk berolahraga. Dosen lain mungkin lebih memilih memperpanjang tidur atau olahraga di Ujong Blang atau Waduk Kota. Mungkin juga bukan olahraga, tapi cuci mata dan cari "tabungan perut".

Dua minggu ini baru saya sadar bahwa hutan BI ini masih meninggalkan warisan fauna, terutama monyet yang cukup banyak. Ada ratusan monyet menghampiri jalan dan bergelayut di pohon dan kabel listrik. Mengingatkan pada film War for the Planet of the Apes (2017) ketika bumi dikuasai para kera dan mereka melakukan pembalasan kepada manusia yang merusak alam. Benar-benar seperti belantara.

IMG_20180715_075949.jpg

Sesungguhnya hutan BI Unimal itu bukan usaha Unimal. Ketika kompleks ini diserahkan oleh Mobil Oil ke pihak Unimal untuk pengembangan kampus jantung hati Pasee, kompleks ini jauh lebih asri.

Hutan ini peninggalan perusahan migas internasional itu, bersebelahan dengan kompleks Arun-Exxon Mobil. Merekalah dengan usaha sejak 40 tahun lalu menjadikan kompleks perumahan ini ramah, dengan pelbagai biosfer yang menjadikan iklim sekitar nyaman. Keberadaan Unimal dan proyek pembangunannya memang mengubah beberapa kontur dan hutan alami itu. Pembangunan memang harus dilakukan, conditio sine qua non, tak boleh lagi surut ke belakang. Namun, sayangnya mulai mendesak lingkungan hijau menjadi merintih dan terluka.

IMG_20180715_080517.jpg

Oleh sebab kemendesakan pembangunan kita bisa maklumi. We must support the development at any cost. Namun, yang tidak bisa ditoleransi ketika hutan-hutan itu dijarah masyarakat sekitar dengan aneka kepentingan pragmatis. Mulai keperluan kayu, tanah, batu, buah, dsb. Belum lagi polah galian C di bukit-bukit sekitar yang semakin ganas. Benar-benar pemandangan horor!

IMG_20180715_082844.jpg

Beberapa hutan terjarah itu menjadi ruang terbuka dan memberikan perasaan sakit. Padahal Unimal juga memiliki Fakultas Pertanian, tapi tampaknya visi ekologis tak begitu tergelegak di nalar dan nadi civitas akademika. Saya pernah bertanya kepada dosen Pertanian apakah mereka pernah meregister aneka bisofer di BI Unimal, ia menjawab tidak ada. Miris!

IMG_20180715_082846.jpg

Jadi jika ada flora dan fauna hilang dari BI Unimal, tak ada yang tahu. Komunitas Mapala juga tak terdengar protesnya. Pimpinan kampus pun tak punya sikap tegas atas aksi predatoris lingkungan ini.

Anehnya, alih - alih menyelamatkan hutan tersisa, pimpinan kampus di tingkat fakultas pun gemar membuat kebijakan menghilangkan pohon-pohon. Beberapa ruas seperti FISIP dan FEB terasa semakin gersang dan panas. Panas lingkungan pasti berdampak panas hati dan pikiran. Jadi jika iklim akademik pun menjadi tidak kondusif, pasti sudah tahu penyebabnya.

IMG_20180715_080934.jpg

Saya malah mendengar cerita miris lain. Jumlah monyet-monyet itu bahkan lebih banyak. Namun, sebagian besar sudah dibantai atau diculik oleh penduduk sekitar. Mungkin monyet mulai kekurangan pangan karena tetumbuhan yang ada mulai hilang. Akhirnya mereka mulai mencari makanan di perumahan penduduk. Itu lingkaran dan jaringan makanan yang dirusak manusia. Tentu yang harus disalahkan adalah manusa dan bukan monyet-monyet lugu dan lucu itu.

Dengan anggaran ratusan miliar rupiah yang didapatkan Unimal untuk pembangunan, sebagian besar infrastruktur tentu akan memberikan luka ekologis baru. Tapi, harus diingat kampus Unimal di BI menjadi benteng ekologis untuk Kota Lhokseumawe. Jangan sampai juga hilang. Uang bisa melakukan segalanya. Tapi karena uang juga memberikan penderitaan menjadi semakin dalam dan lama.

images.jpeg

Siapapun rektor Unimal ke depan harus diyakinkan untuk menjaga hutan BI Unimal masih ada, kalau bisa semakin beragam dan gembur. Wariskan Unimal ini hingga 100 tahun ke depan dengan lingkungan hutan selebat UKM, UIM, USM, Unimed, Unand, UII, NUS, IPB, dan kampus-kampus besar ramah lingkungan lainnya. Jangan paok! Jangan rusak hanya dalam waktu 3-4 tahun ini saja.

IMG_20180722_080251.jpg

22 Juli 2018

IMG-20180702-WA0012.jpg

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT
Sort Order:  trending

Saya ingat dulu tahun 1997, saat On Job Training di Mobil Oil, pernah ke komplek ini untuk mengambil sampel air, komplek ini sangat indah dan asri

·

Ya... Mungkin sekarang sudah mulai defisit, tapi belum kiamat dan bisa diselamatkan...

Potensi sumber daya alam yang harus dijaga

·

Betul.... Uang tidak bisa membeli segalanya, termasuk alam..

Keren pak kemal...semoga sesuai harapan

·

Semoga harapan sesuai kenyataan @muhammadabi... Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

·
·

Luar biasa..kata terakhir menginspirasi pak kemal..tks

Jangan paok! 😂

Seandainya pohon bisa memberontak dan bicara tentunya ia bakal menjerit ketika ditebang, seadainya monyet itu bisa bicara tentunya ia bakal menyelamatkan hidupnya dan akan melawan kita. Namun kita sebagai manusia punya mulut, hati, telinga, otak malah diam saja melihat, mendengar jeritan-jeritan alam yang rusak ditangan kerakusan spesies manusia seperti kita ini.
Masih adakah kesempatan untuk menyelamatkannya pak @teukukemalfasya?
Dan jika memang ke depan akan ada lebih banyak lagi pembangunan, bagaimanakah pembangunan yang baik?

·

Semua tempat dan peradaban memerlukan pembangunan, tapi sedapat mungkin jangan membuat lingkungan terluka. Contoh foto oaling bawah bisa dilihat. Mmebuat jalan tidak harus menerabas semua pohon. Tetap buat setiap jengkal tempat asri. tak perlu semua dibeton atau disemen.

Tempat yang nyaman dan menarik @tteukukemalfasya

Ayo ngegym mumpung instruktur @althaf sedang nganggur. Kalau beliau sibuk ngajar para artis, kita harus antre.