Riak Putih di Senja Kelabu

2년 전


Source

Dania menatap langit yang berhias awan hitam. Mendung membayangi senja. Angin bertiup kencang. Ombak besar menjilat bibir pantai. Pantas seharian panas sekali. Gumpalan awan-awan hitam berserakan di kaki langit.

Laut selalu membuatnya jatuh cinta sekaligus takut. Melihat hamparan air, memberi rasa berkelimpahan dalam dirinya. Melihat laut marah, timbul rasa takut dan tidak berdaya. Benar-benar merasa jadi seorang makhluk, tanpa daya upaya.

Ketika kembali menyusuri pantai menuju pondoknya, Dania melihat seorang laki-laki berkacamata hitam sedang duduk di sebuah ayunan yang sangat nyaman. Sejak tadi, wajahnya tidak beralih dari laut. Tampaknya orang itu juga sedang membutuhkan ketenangan. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke laut lepas.

Di tepi pantai, di depan pondoknya, meja bundar berpayung sudah terisi beberapa minuman dan makanan ringan. Namanya, tertera di name desk di atas meja.

Wah, surprise, welcome drink-nya lengkap. Luar biasa sekali, pelayanan yang mereka berikan.

Berjalan-jalan di sepanjang garis pantai, membuatnya haus. Dengan segera diminumnya es kelapa muda. Rasa manis mengalir di tenggorokan. Dania menyandarkan tubuh di kursi panjang. Ketegakan kursi yang bisa di atur, membuatnya bisa berbaring dengan rileks.

Meja payung yang diatur sedemikian rupa, tidak menghalangi pandangannya ke langit. Dania memejamkan mata. Seluruh tubuhnya rileks. Angin sepoi-sepoi membelai wajahnya.

Rasa damai memenuhi hatinya. Bibirnya tersenyum lebar. Jadi dokter dan bisa bantu orang lain. Menginspirasi lewat tulisan. Dia bisa melakukan apapun yang ingin dilakukannya. Membeli apapun yang diinginkannya. Mengajak orangtuanya liburan, pergi haji, dan umroh. Keinginan terbesarnya sudah diraihnya.

Apalagi yang ingin diraihnya?

Bayangan Bram melintas. Dia menghela nafas panjang.

Dania menggelengkan kepala, seakan ingin mengusir pikirannya. Bola matanya diputar sedikit ke atas, teringat telpon-telpon dan sms, dari teman-teman pria, yang sering masuk ke ponselnya belakangan ini. Rangkaian bunga cantik memenuhi ruang prakteknya. Terkadang, hampir setiap hari kiriman bunga harus diganti, karena ada kiriman lain.

Dania membuka mata. Sandaran bangku ditegakkannya. Matanya memandang ke arah laut lepas. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. Perhatiannya diarahkan ke hati. Pada perasaan damai dan bahagia, yang dirasakannya di rongga dadanya. Dia menarik dan mengeluarkan nafas perlahan-lahan. Setiap hembusan nafas, membuat tubuh dan pikirannya lebih rileks.

Dadanya dipenuhi dengan kebahagiaan. Ketenangan, kedamaian menyelimuti dirinya. Angit yang bertiup lembut, membuat laut seakan-akan mengalir ke satu arah, menjadi sebuah aliran sungai yang besar. Dadanya mengembang dipenuhi dengan perasaan-perasaan yang menyenangkan.

Dania menikmati perasaan-perasaan yang sedang dirasakannya. Tarikan nafas dalam, memenuhi rongga perutnya. Menghembuskan perlahan seluruh udara, sampai perutnya tidak berisi udara lagi. Dia merasa keputusannya, untuk bertemu Galang, adalah sebuah hal yang benar, baginya.

Tiba-tiba gawainya berdering. Nama Galang terpampang di layar. Alisnya naik sedikit. Dia baru saja memikirkan Galang, dan laki-laki itu menelpon. Apakah ini berarti sesuatu? Sudah sejak lama, dia tidak percaya dengan kebetulan.

“Halo, selamat sore?” terdengar suara empuk yang sangat menyenangkan, dari seberang sana.

“Sore,” sahut Dania perlahan.

“Saya Galang, anak Tante Miranda.”

“Hm....” Dania menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.

“Saya tahu kita akan bertemu hari Sabtu. Kalau kamu tidak keberatan, bisakah kita ketemu sebelum itu?”

“Bagaimana kalau hari ini? Kebetulan, saya sedang tidak sibuk hari ini.“

“Bisa. Hari ini aku juga lagi di luar ... kamu di mana? Aku akan ke sana...!”

“Aku sedang di pantai-“

“Di cottage? ... Apakah kau memakai kemeja biru?”

“Bagaimana kamu tahu?” Dania melihat sekelilingnya. Andaikata Galang tahu warna bajunya, dia pasti ada di sekitar tempat ini. Pandangan Dania terpaku, pada laki-laki yang tadi dilihatnya sedang duduk di ayunan. Dia melihat laki-laki itu berdiri menghadap ke arahnya, sembari memegang gawai.

“Apakah itu kamu?” tanya Dania.

 

Bandung Barat, Rabu 21 November 2018

Salam

Cici SW


Posted from my blog with SteemPress : https://cicisw.com/2018/11/21/riak-putih-di-senja-kelabu/

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
STEEMKR.COM IS SPONSORED BY
ADVERTISEMENT
Sort Order:  trending

Bagus kakak

Posted using Partiko Android

·

Terima kaish Kak @ardi94 :)

Mbak so sweet. Rangkaian katanya banget....

·

Siapa dulu !? Cicisw/duit bae?

·
·

Hmmmm....

Posted using Partiko Android

·

Terima kasih Kak @wahyulestari08 :)

“Saya Galang, anak Tante Miranda.”
" Ooo Tante Miranda, itu teman saya waktu di SMA".